Pages

Selasa, 11 Oktober 2016

Dampak positif dari teknologi pertanian

Potret Pertanian -Perkembangan Teknologi dewasa ini memang berkembang pesat seiring dengan pwerkembangan jaman yang semakin modern. perkembangan teknologi dari waktu-kewaktu terus mengalami perubahan kearah yang lebih baik dari sebelumnya, penambahan-penambahan teknologi terbaru yang semakin hari terus berinofasi sesuai dengan kebutuhan manusia, seperti kebutuhan teknologi dibidang pertanian. adapun perkembangan teknologi pertanian yang terus berinovasi kearah yang lebih baik, sperti halnya perkembangan teknologi dari waktu-kewaktu yang terus berubah sesuai dengan kebutuhan. Contohnya adalah Alat Pembajak Sawah dan Ladang.

Pada jaman lampu para petani menggunakan Cangkul untuk menggemburkan tanah pertanian mereka, seiring kemajuan cara berfikir untuk ber Inovasi, cangkul yang keberadaanya masih banyak sekali dilingkungan pertanian kita, perlahan mulai berubah, menjadi bajak manual yang ditarik oleh Kerbau atau sapi, selanjutnya terus berinofvasi menjadi Hentractor, yang sudah menggunakan mesin yang langsung dikendalikan oleh satu orang operator dibelakangnya. dn selanjutny adalah traktor yang penggunaanya dengan cara dikemudikan seperti truck pada umumnya.
Nah berikut Manfaat denganhadirnya Teknologi yang ber Dampak Positif dari teknologi pertanian.

Mempercepat Pekerjaan Petani. Pada pengolahan lahan yang luas membuat para petani memerlukan waktu yang cukup lama tanpa adanya teknologi, namun dengan adanya teknologi maka petani akan lebih mudah dan cepat dalam mengolah lahan mereka. Seperti contohnya penggunaan mesin traktor yang dulunyanya menggunakan kerbau.

Meningkatkan Hasil Produksi Pertanian. Petani dulu biasanya menanam jagung biasa namun sekarang dengan cara pengawinan tanaman jagung dapat menghasilkan jagung hibrida yang lebih banyak hasil dan lebih menarik bentuk fisik dari jagung tersebut.

Senin, 10 Oktober 2016

Sumatera Barat Capai 43.985,7 Ton Hasil Produksi Komoditi Cabai Besar

Potret Pertanian - Provinsi Sumatera Barat Padang yangmemiliki  sumber daya air, perkebunan, peternakan, dan kehutanan yang potensial untuk dikembangkan, ang didukung dengan kondisi lahan pertanian yang subur sehingga memungkinkan untuk semua jenis tanaman bisa tumbuh bbaik dan berkembang dengan baik didaerah ini. sehingga mempunyai hasil pertanian unggulan seperti cabai, bawang merah, tomat, padi jagung dan banyak lagi yang lainya.  Baca Juga Data Luas Lahan Produksi Tanaman Padi, Daging Sapi dan Telur Ayam di Indonesia

Dikutip dari Antara Sumbar "Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) menyatakan produksi cabai besar di daerah itu hingga Agustus 2016 sebanyak 43.985,7 ton.
Produksi cabai besar itu terdapat pada 19 kabupaten/kota yang berada di Sumbar," kata Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Tanaman Pangan Sumbar Yustiadi di Padang, Senin.

Selanjutnya produksi cabai di Kabupaten Agam sebanyak 9.945,1 ton, Lima Puluh Kota 3.042,2 ton, Kabupaten pasaman 43,9 ton, Solok Selatan 3.941,7 ton, Dharmasraya 63,2 ton, Pasaman Barat 998,4 ton, Kota Padang 291,7 ton, Solok 35,8 ton, Sawahlunto 39,5 ton.

Sedangkan di Padang Panjang produksi cabai besar sebanyak 1.049,3 ton, Bukittinggi sebanyak 209,3 ton, Kota Payakumbuh 662,1 ton dan Kota Pariaman sebanyak 22,7 ton.

"Cabai merupakan kebutuhan terpenting bagi masyarakat, apalagi masyarakat Minang, dengan demikian kita berusaha untuk meningkatkan produktivitas cabai" ujar dia.

Menurutnya terjadinya inflasi di beberapa daerah di Sumbar yang salah satu pemicunya adalah cabai. Hal itu dikarenakan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan cabai sedangkan ketersediaan tidak mencukupi.

"Sehingga hal itu membuat kelangkaan cabai serta melonjaknya harga, terutama ketika lebaran Agustus dan September," kata dia.

Untuk itu kata dia demi mengatisipasi hal tersebut petani harus mengubah pola tanam cabai agar mendapatkan hasil yang maksimal.

Ia menyebutkan pola tanam menentukan hasil yang didapatkan untuk mengubah pola tanam cabai yaitu dengan menanam cabai pada saat musim kering dan harga dipasaran rendah, agar ketika musim hujan cabai tidak mengalami kelangkaan.

Ia mengatakan pihaknya telah memberikan bantuan berupa menara dengan menyuruh petani membuat sumur atau tangki-tangki air lalu dialirkan kemudian petani dapat dengan mudah menyirami tanamannya dengan menggunakan slang.

"Di beberapa daerah sudah menampakkan hasil, contoh Pesisir selatan, Payakumbuh, Solok Selatan, Solok, Pasaman Barat," katanya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar mencatat cabai merah dan jengkol merupakan dua komoditas pemicu inflasi tertinggi di Padang pada September 2016 yang mencapai 0,58 persen.

"Dua komoditas tersebut memiliki andil terbesar dalam membentuk angka inflasi Padang yaitu cabai merah 0,51 dan jengkol 0,10," kata Kepala BPS Sumbar Dody Herlando.

Menurut dia cabai merupakan salah satu kebutuhan wajib warga Padang yang tidak bisa digantikan oleh komoditas lainnya sehingga saat harga naik masyarakat tetap membeli.

Hal ini diperkuat oleh pada September ada Lebaran Idul Adha yang ketika itu kebutuhan cabai naik untuk memasak daging kurban sehingga harganya sempat mencapai Rp70 ribu per kilogram dibandingkan harga normal yang hanya Rp24 ribu, lanjut dia. (*)
 
Semoga dengan demikian semoga akan semakin meningkatkan kesejahteraan para petani yang ada didaerah Sumatera Barat kususnya dan akan diikuti oleh daerah - darah lain yang juga nebghasilkan hasil-hasil komoditas pertanian diseluruh indonesia. salam Potret Pertanian.

Aksi Bajing Loncat Dijalan Lintas Sumatera

Potret Pertanian - Jum'at 7-10-2016. malam itu jalanan lintas timur Sumatera masih Ramai oleh lalu lalang arus lalulintas baik kendaraan roda 4 dan juga roda 2, malam itu kurang lebih jam 10 malam WIB tepatnya di daerah ketika saya hendak mendahului sebuah mobil tronton yang berada di depan saya, tiba-saya mengurungkan niat untuk segera mendahului kendaraan didepan saya, pasalnya saya melihat sesuatu yang agak ganjil, terpal bagian belakang sobek dan dibelakang truk tronton bermuatan berat itu ada sebuah motor yang mengikuti dengan pelan dibelakang mobil.
Ilustrasi http://sumsel.tribunnews.com

Ahirnya saya berinisiatif untuk mengusir motor tersebut dengan cara memepet kendaraan motor tadi seakan-akan mau saya tabrak sambil membunyikan klason mobil yang saya bawa, tiba-tiba dari dalam bak mobil keluar satu orang lewat terpal bagian belakang bak mobil yang sobek dan langsung melompat turun selanjutnya naik motor yang dari tadi membuntuti mobil tersebut.

Setelah mereka kabur, saya langsung mendahului mobil didepan saya dengan niat untuk memberitahukan kejadian yang baru saja Kawanan bajing loncat telah beraksi di mobil mereka, dan kamipun berhenti untu mengecek barang bawaan mereka yang ternyata adalah beras sebanyak 10 karung kurang lebih. sukurlah Si Bajing Loncat hanya dapat menurunkan jumlah tersebut untuk segera diketahui aksi jahat mereka.

Bajing Loncat Memang menjadi ancaman menakutkan bagi sopir angkutan barang yang melewati di jalan lintas Sumatera. Berbekal keahlian berdiri di atas setang motor yang dipacu dalam kecepatan tinggi, kompolotan ini berhasil menguras barang berharga dari dalam bak truk yang melintas.

Waspada Kejahatan bisa berada dimana saja, ingat selalu waspada semoga kita selalu diselamatkan Oleh Tuhan Yang Maha Esa, dan selalu dihindarkan dari segala bentuk kejahatan yang mengancam kita aamiin...

Selasa, 04 Oktober 2016

Apa Yang Dimaksud Surveilans OPT Hortikultura

Potret Pertanian -  Surveilans.? Mungkin bagi sebagain Orang belum mehami apa yang disebut Surveilans ini, nah berikut ulasan apa yang dimaksud dengan Surveilans yang mungkin sering kita dengar dari orang-orang ahli pertanian dilingkungan kita berada. Nah tanpa Banyak mukodimah yuk langsung kita ke TKP untuk mendengar penjelasan ahli pertanian kita.

Surveilans merupakan kegiatan pengamatan dalam rangka mengumpulkan dan mencatat data tentang dinamika populasi atau tingkat serangan OPT serta faktor – faktor yang memengaruhinya pada waktu dan tempat tertentu. Dalam pelaksanaannya, surveilans dapat dibedakan menjadi 2 (dua) jenis yaitu surveilans umum dan surveilans khusus (deteksi dan pest list)

A. Surveilans Umum
Surveilans umum adalah kegiatan resmi yang dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang suatu OPT di suatu area yang dikumpulkan dari berbagai sumber untuk melakukan deteksi awal perkembangan OPT sehingga mempermudah dalam penyusunan rekomendasi pengendalian dan pengelolaan OPT di wilayah tertentu. Tujuan dilaksanakannya surveilans adalah untuk : 1). mengetahui keberadaan, kepadatan populasi, sebaran dan dinamika OPT sasaran; 2). memeroleh data dasar dalam analisa peramalan dan penerapan sistem peringatan dini (early warning system), serta 3). mengevaluasi keberhasilan kegiatan pengendalian OPT.

Kegiatan surveilans diawali dengan pencarian informasi ke berbagai sumber antara lain National Plant Protection Organization (NPPO), lembaga penelitian, perguruan tinggi, komunitas ilmiah, produsen, konsultan, perpustakaan / museum, jurnal – jurnal ilmiah, masyarakat umum / petani, maupun melalui perangkat internet. Informasi yang diperoleh berupa data dan informasi tentang OPT dan inangnya, intensitas serangan, kepadatan populasi OPT, perubahan status, serta penyebaran OPT.
 
Hal yang paling penting diperhatikan dalam surveilans adalah metode pengamatan dan koleksi. Setiap OPT mempunyai perilaku, bioekologi, habitat, dan karakteristik yang berbeda – beda. Misalnya untuk pengamatan serangga hama yang aktif terbang, metode yang sesuai antara lain dengan menggunakan jaring serangga, perangkap likat kuning (yellow trap), dan feromon trap (khusus serangga yang tertarik dengan feromon); untuk serangga yang tertarik cahaya dapat menggunakan lampu perangkap (light trap), untuk serangga yang aktif berjalan di atas tanah dapat menggunakan lubang perangkap (pitfall trap); serta untuk pengamatan nematoda, bakteri, virus dapat dilihat berdasarkan gejala (daun menguning, nekrotik, layu, kerdil dll) dan tanda penyakit (miselium, karat, tepung, tubuh buah, sklerotium, lendir/eksudat bakteri, dll) tanaman yang terserang.
 
Untuk memanfaatkan data dari berbagai sumber, disarankan agar NPPO mengembangkan sistem informasi yang tepat pada OPT tertentu yang menjadi perhatian, kemudian dikumpulkan, diverifikasi dan dikompilasi. Komponen sistem tersebut harus mencakup : NPPO atau institusi lain yang ditunjuk oleh NPPO yang bertindak sebagai repositori nasional untuk catatan OPT hortikultura; sistem pengambilan dan pemeliharaan catatan; prosedur verifikasi data; dan saluran komunikasi untuk mentransfer informasi dari sumber ke NPPO.
Surveilans dilakukan oleh petugas LPHP berdasarkan laporan dari petugas POPT-PHP di wilayah kerjanya dan/atau berdasarkan potensi serangan OPT di wilayah dan waktu tertentu. Informasi yang dikumpulkan, seperti melalui surveilans umum (general surveillance), akan paling sering digunakan : untuk mendukung deklarasi NPPO tentang bebas OPT, untuk membantu deteksi awal OPT baru; untuk pelaporan ke organisasi lainnya seperti RPPO dan FAO; dalam penyusunan daftar OPT (pest list) inang dan komoditas serta catatan distribusi.

B. Surveilans Khusus
Surveilans khusus merupakan prosedur kegiatan yang dilaksanakan oleh NPPO dan bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang suatu OPT pada area dan periode tertentu. Langkah – langkah dalam pelaksanaan surveilans khusus adalah sebagai berikut :
  1. Pemilihan Judul dan Penyusunan Rencana Survei
    Pemilihan judul disesuaikan dengan survei yang akan dilakukan (diutamakan memilih judul yang sederhana) dan dapat diperbaiki sejalan dengan pelaksanaan survei. Perencanaan yang baik dan tepat merupakan faktor kunci keberhasilan pelaksanaan surveilans. Rencana tersebut harus menggambarkan status OPT sasaran dan metode yang tepat sehingga surveilans dapat dilaksanakan dengan baik dari segi teknis maupun finansial. Selain itu, pencatatan nama petugas yang akan melakukan survei juga perlu dilakukan dalam penyusunan rencana survei.
  2. Tujuan Survei
    Tujuan harus ditentukan sejak perencanaan surveilans sehingga akan diperoleh hasil sesuai kebutuhan.
  3. Identifikasi OPT Sasaran
    Mengumpulkan informasi dari berbagai sumber yang terpercaya, antara lain : NPPO, lembaga pemerintah (lokal dan/atau nasional), lembaga penelitian, universitas, perhimpunan profesi, perpustakaan / museum, jurnal ilmiah, pencarian melalui perangkat internet dll. Setelah diketahui nama OPT sasaran, informasi tersebut kemudian dilengkapi dengan vektor OPT, pengaruh yang dapat ditimbulkan, dan karakteristik OPT.
  4. Identifikasi Tanaman Inang Sasaran
    Identifikasi inang sasaran meliputi nama inang sasaran (umum dan ilmiah), nilai tanaman inang atau komoditas, perilaku pertumbuhan dan siklus hidup tanaman inang, aksepsibilitas (kemudahan pengamatan) tanaman inang, dan sebaran tanaman inang.
  5. Tanaman Inang Alternatif
    Merupakan tanaman yang dapat berfungsi sebagai tempat hidup sementara OPT selama inang utama tidak tersedia. Identifikasi kisaran inang saat penting khususnya untuk survei deteksi awal OPT eksotik serta survei pembatasan untuk mengamati penyebaran OPT setelah terjadinya pemasukan ke wilayah baru. Informasi tersebut dapat diperoleh dengan cara menanyakan kepada masyarakat / petani di wilayah yang bersangkutan, publikasi, database dan berbagai sumber di internet.
  6. Penelaahan Rencana Survei yang telah dilaksanakan sebelumnya
    Penelaahan rencana survei yang telah dilaksanakan sebelumnya berguna sebagai sumber informasi yang bermanfaat bagi pelaksanaan survei yang akan dilaksanakan.
  7. Pemilihan Lokasi
    Tahapan pemilihan lokasi meliputi pemilihan area, pemilihan wilayah, tempat, lokasi lahan, lokasi pengambilan sampel, dan pemilihan titik pengambilan sampel.Identifikasi area survei
    Area survei sebaiknya mempunyai batas yang mudah untuk ditentukan (pualu, provinsi).
    b. Identifikasi wilayah yang akan disurvei
    Wilayah survei disesuaikan dengan tujuan survei. Pada umumnya survei hanya akan meliputi satu atau beberapa wilayah (kabupaten, kecamatan) sehingga cukup mudah untuk melakukan identifikasi.
    c. Identifikasi tempat survei, lokasi lahan, lokasi pengambilan sampel, dan titik pengambilan sampel
    Pendeskripsian tempat survei, lokasi pengambilan sampel, dan titik pengambilan sampel. Pemilihan tempat dapat dilakukan dengan menentukan hamparan pertanian atau desa; pemilihan lokasi lahan dengan menentukan lahan pertanaman, pemilihan lokasi pengambilan sampel dengan menentukan kuadran, individu pertanaman, atau baris pertanaman; serta pemilihan titik pengambilan sampel dilakukan dengan menentukan rumpun/tanaman yang akan disurvei.
    d. Metode untuk pemilihan lokasi
    Dapat memberikan informasi secara transparan tentang pemilihan metode yang akan digunakan dan alasan yang jelas terkait dengan tujuan survei.
  8. Penetapan Jumlah dan Jenis Sampel
    Disesuaikan dengan tujuan survei, kondisi lapangan, petugas survei dan waktu pelaksanaan. Pengambilan sampel perlu memperhatikan beberapa faktor sebagai berikut :
    a. Sampel yang diamati dapat mewakili populasi pertanaman dalam satu hamparan.
    b. Semakin banyak jumlah contoh yang diamati, maka akurasi data yang diperoleh akan semakin tinggi;
    c. Dalam pengambilan sampel, harus memerhatikan faktor tenaga dan waktu.
  9. Waktu Pelaksanaan Survei
    Disesuaikan dengan kecenderungan keberadaan OPT sasaran dan stadium yang dapat diamati. Waktu pelaksanaan ditentukan berdasarkan : 1). Siklus hidup OPT, 2). Fenologi dan tanaman, 3). Waktu pelaksanaan program pengelolaan OPT, dan 4). Kemudahan mendeteksi OPT pada saat tanaman tumbuh atau setelah tanaman dipanen. Faktor lain yang harus diperhitungkan dalam pelaksanaan survei adalah waktu OPT paling aktif, waktu gejala serangan terlihat jelas, waktu sebar, berkecambahnya benih, pembungaan, pemasakan buah, dan panen tanaman inang, waktu pembungaan untuk gulma, dan aksesibilitas dan ketersediaan alat transportasi.
  10. Perencanaan Pengumpulan Data dari Lapangan
    Perencanaan pengumpulan data dimulai dengan penandaan lokasi pengambilan sampel dengan bahan yang tahan terhadap berbagai kondisi cuaca dan diberi tulisan dari pensil atau tinta. Penandaan lokasi sampel membantu untuk mengunjungi lokasi yang sama saat dibutuhkan. Data yang dikumpulkan dari lapangan antara lain tanggal, cuaca, lokasi, nama dan cara menghubungi orang setempat yang ikut membantu pelaksanaan, serta informasi lain yang dipandang perlu. Data dilaporkan dalam bentuk unit pengukuran, biasanya jumlah OPT per unit area. Area yang diamati dapat berupa : per pohon/rumpun, buah, lahan, tanaman, kilometer, kuadrat, ayunan jaring serangga, perangkap dsb.
    Jumlah OPT yang dilaporkan merupakan hasil penghitungan populasi OPT secara langsung atau skor (skala) / intensitas serangan OPT. Untuk OPT yang jumlahnya sangat banyak atau khusus untuk gejala serangan patogen pengukuran standar OPT menggunakan skor (skala).
  11. Metode Pengumpulan Spesimen OPT
    Pengumpulan dan penanganan spesimen OPT harus dilakukan sebaik mungkin agar ciri – ciri khusus yang digunakan dalam diagnosis dapat dijaga dalam kondisi yang baik, khususnya kalau spesimen tersebut akan digunakan sebagai koleksi atau herbarium referensi yang permanen. Untuk memudahkan dalam melakukan identifikasi spesimen OPT, pelabelan sementara perlu diberikan pada saat masih berada di lapangan dan pelabelan yang sesuai dengan persyaratan dapat diberikan kemudian.
  12. Penyimpanan Data secara Elektronik
    Semua data yang dicatat sebaiknya disimpan secara elektronik dalam bentuk data komputer (soft copy) sehingga mempermudah dalam proses analisis data.
  13. Petugas Survei
    Petugas survei harus sudah mendapatkan pelatihan yang cukup dalam melakukan pengambilan sampel, preservasi dan pengiriman sampel, serta pencatatan data tentang sampel.
  14. Perizinan dan Akses
    Untuk melakukan survei di suatu wilayah (pulau, desa, komunitas, hutan atau hamparan pertanian) perlu memberikan informasi kepada pihak yang berwenang tentang tujuan dan waktu pelaksanaan survei. Survei dilaksanakan setelah ada konfirmasi dari pihak yang bersangkutan. Sebaiknya proses untuk memeroleh izin dilakukan sesegera mungkin sehingga tersedia waktu yang cukup dalam pelaksanaan survei.
  15. Studi Pendahuluan
    Dilakukan dengan mengunjungi tempat / daerah yang akan disurvei. Beberapa komponen yang perlu diperhatikan antara lain kondisi akomodasi dan transportasi, kemungkinan kesesuaian praktik yang akan dilakukan dalam pelaksanaan survei dan koleksi, serta pemindahan spesimen dari lokasi survei. Pemberian informasi pada orang yang terlibat dalam survei merupakan bagian dari studi pendahuluan. Studi pendahuluan dapat dilakukan dengan memasukan komponen terstruktur, misalnya bagaimana kejadian OPT terjadi di lapangan. Selain itu dapat dilakukan beberapa percobaan untuk melihat keterampilan anggota tim dalam mendeteksi OPT.
  16. Pelaksanaan Survei : Pengumpulan Data dan Spesimen
    Keakuratan data serta kualitas dan kelengkapan spesimen yang dikumpulkan ditentukan oleh kekompakan tim yang telah dibekali dengan perencanaan yang matang, informasi yang lengkap, dan perlengkapan yang cukup memadai.
  17. Analisis Data
    Data hasil survei anatara lain dapat digunakan untuk : 1). Menghitung parameter statistik dasar misalnya rata – rata jumlah OPT; 2). Estimasi tingkat kepercayaan data yang dikumpulkan; 3). Membuat peta sebaran OPT, dan 4). Mengevaluasi kepadatan OPT jika waktu pemantauan lebih lama.
  18. Pelaporan Hasil Survei, minimal harus memuat informasi tentang :
  • Judul Survei dan anggota Tim
  • Tujuan Survei
  • Latar belakang informasi tentang OPT
  • Rancangan survei secara rinci
  • Metode analisis dan interpretasi data
  • Kesimpulan berdasarkan hasil temuan survei
Nah demikian tadi apa yang dimaksud dengan Surveilans, bagaimana sudah paham kan, he he he semoga artikel ini bermanfaat dan salam sukses selalu dari Potret pertanian. sumber Informasi Direktorat Jendral Pertanian Hortikultura

Data Luas Lahan Produksi Tanaman Padi, Daging Sapi dan Telur Ayam di Indonesia

Potret Pertanian - Menurut Sistem Informasi Pangan Strategis Kementerian Pertanian Indonesia, Luasan lahan Produksi dari Tahun 2010 sampai dengan 2016 menurut data statistik komoditi,Data Luas Lahan Produksi Tanaman Padi, Daging Sapi dan Telur Ayam di Indonesia sebagai Berikut:
Sumber : Kementerian Pertanian RI




Komoditi : Padi






Indikator : LUAS PANEN                                                  





Satuan : Ha






Level : Provinsi






Tahun : 2010-2019






Status Angka : Angka tetap






No Propinsi 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016









1 Aceh 352.281  380.686  387.803  419.183  367.137  461.060  0 
2 Sumatera Utara 754.674  757.547  765.099  742.968  717.318  781.769  0 
3 Sumatera Barat 460.497  461.709  496.422  487.820  503.198  507.545  0 
4 Riau 156.088  145.242  144.015  118.518  106.037  107.546  0 
5 Jambi 153.897  157.441  149.369  153.243  145.990  122.214  0 
6 Sumatera Selatan 769.478  784.820  769.725  800.036  810.900  872.737  0 
7 Bengkulu 133.629  127.934  144.448  147.680  147.572  128.833  0 
8 Lampung 590.608  606.973  641.876  638.090  648.731  707.266  0 
9 Kepulauan Bangka Belitung 8.180  5.299  7.995  10.232  9.943  11.848  0 
10 Kepulauan Riau 396  387  382  379  385  263  0 
11 Daerah Khusus Ibukota Jakarta 2.015  1.723  1.897  1.744  1.400  1.137  0 
12 Jawa Barat 2.037.657  1.964.466  1.918.799  2.029.891  1.979.799  1.857.612  0 
13 Jawa Tengah 1.801.397  1.724.246  1.773.558  1.845.447  1.800.908  1.875.793  0 
14 Daerah Istimewa Yogyakarta 133.369  150.827  152.912  159.266  158.903  155.838  0 
15 Jawa Timur 1.736.048  1.926.796  1.975.719  2.037.021  2.072.630  2.152.070  0 
16 Banten 406.411  397.021  362.636  393.704  388.398  386.676  0 
17 Bali 145.030  152.585  149.000  150.380  142.697  137.385  0 
18 Nusa Tenggara Barat 331.916  418.062  425.448  438.057  433.712  467.503  0 
19 Nusa Tenggara Timur 166.753  195.201  200.094  222.469  246.750  266.242  0 
20 Kalimantan Barat 399.832  444.353  427.798  464.898  452.242  433.944  0 
21 Kalimantan Tengah 229.665  214.161  251.787  247.473  242.488  254.670  0 
22 Kalimantan Selatan 505.846  489.134  496.082  479.721  498.133  511.213  0 
23 Kalimantan Timur 155.484  140.215  142.573  102.912  100.262  99.209  0 
24 Kalimantan Utara 0  0  0  35.926  32.072  41.115  0 
25 Sulawesi Utara 103.189  122.108  126.931  127.413  130.428  137.438  0 
26 Sulawesi Tengah 204.342  221.846  229.080  224.326  219.613  209.057  0 
27 Sulawesi Selatan 770.733  889.232  981.394  983.107  1.040.024  1.044.030  0 
28 Sulawesi Tenggara 110.498  118.916  124.511  132.945  140.408  140.380  0 
29 Gorontalo 44.548  52.811  51.193  56.894  62.690  59.668  0 
30 Sulawesi Barat 66.630  76.347  83.796  91.195  94.351  93.470  0 
31 Maluku 15.352  21.227  20.489  24.399  21.623  21.141  0 
32 Maluku Utara 16.071  16.783  17.794  19.281  21.192  21.438  0 
33 Papua Barat 8.257  8.283  7.750  7.523  6.880  7.174  0 
34 Papua 22.957  29.262  37.149  41.111  45.493  41.354  0 










Rata-Rata 376.286 388.342 396.045 406.919 405.597 415.195 0



Komoditi : Telur Ayam






Indikator : PRODUKSI                                                    





Satuan : Ton






Level : Provinsi






Tahun : 2010-2019






Status Angka : Angka tetap






No Propinsi 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016









1 Aceh 0  2.419  3.640  0  1.892  3.080  0 
2 Sumatera Utara 0  79.204  108.018  0  132.949  136.258  0 
3 Sumatera Barat 0  60.148  62.687  0  63.706  65.046  0 
4 Riau 0  1.384  2.022  0  1.019  987  0 
5 Jambi 0  4.771  4.641  0  4.950  4.878  0 
6 Sumatera Selatan 0  48.726  49.540  0  55.354  56.242  0 
7 Bengkulu 452  582  576  529  561  987  0 
8 Lampung 40.470  44.878  61.335  51.388  50.786  37.839  0 
9 Kepulauan Bangka Belitung 0  593  544  1.238  669  583  0 
10 Kepulauan Riau 0  7.129  3.425  0  2.927  3.620  0 
11 Daerah Khusus Ibukota Jakarta 0 * 0  0  0  0  0  0 
12 Jawa Barat 0  115.787  120.123  0  134.581  133.436  0 
13 Jawa Tengah 174.884  179.974  192.071  204.357  191.546  202.110  0 
14 Daerah Istimewa Yogyakarta 23.361  26.111  25.802  25.802  26.494  28.083  0 
15 Jawa Timur 0  235.832  270.700  0  291.399  390.055  0 
16 Banten 0  57.626  47.455  0  40.279  45.918  0 
17 Bali 0  36.606  47.969  0  36.602  40.987  0 
18 Nusa Tenggara Barat 0  1.268  1.338  0  2.293  3.598  0 
19 Nusa Tenggara Timur 0  1.385  1.164  0  1.333  1.341  0 
20 Kalimantan Barat 16.257  15.613  23.906  19.875  43.800  31.851  0 
21 Kalimantan Tengah 538  120  209  0  1.191  1.403  0 
22 Kalimantan Selatan 0  20.286  20.955  33.947  47.651  60.262  0 
23 Kalimantan Timur 0  8.032  12.240  0  5.291  7.451  0 
24 Kalimantan Utara 0  0  0  0  348  377  0 
25 Sulawesi Utara 0  7.838  8.552  0  9.949  10.453  0 
26 Sulawesi Tengah 0  5.297  4.621  0  7.837  7.389  0 
27 Sulawesi Selatan 0  50.003  60.144  0  80.815  89.331  0 
28 Sulawesi Tenggara 0  1.369  1.126  0  1.191  1.524  0 
29 Gorontalo 0  1.565  2.149  2.437  2.773  2.828  0 
30 Sulawesi Barat 0  607  638  0  770  1.107  0 
31 Maluku 0  348  371  0  155  72  0 
32 Maluku Utara 0  10.838  130  0  227  109  0 
33 Papua Barat 0  494  705  0  865  914  0 
34 Papua 676  1.013  1.153  931  2.109  2.710  0 










Rata-Rata 7.548 30.231 33.528 10.015 36.597 40.377 0



Komoditi : Daging Sapi






Indikator : PRODUKSI                                                    





Satuan : Ton






Level : Provinsi






Tahun : 2010-2019






Status Angka : Angka tetap






No Propinsi 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016









1 Aceh 7.914  8.303  6.569  8.747  8.814  10.048  0 
2 Sumatera Utara 0  18.299  24.547  18.437  22.656  23.408  0 
3 Sumatera Barat 20.442  20.287  22.638  23.099  24.943  26.007  0 
4 Riau 10.950  12.658  11.317  8.243  9.298  8.677  0 
5 Jambi 6.349  6.515  6.507  4.386  4.329  4.654  0 
6 Sumatera Selatan 12.703  13.601  14.649  14.496  15.281  16.689  0 
7 Bengkulu 2.691  3.276  3.761  4.222  3.106  3.365  0 
8 Lampung 9.527  10.064  9.833  14.099  13.074  12.337  0 
9 Kepulauan Bangka Belitung 3.024  3.932  2.917  2.966  3.427  2.539  0 
10 Kepulauan Riau 450  532  585  556  2.663  2.661  0 
11 Daerah Khusus Ibukota Jakarta 0  9.413  12.206  18.021  19.260  20.166  0 
12 Jawa Barat 76.066  78.476  74.312  71.881  67.073  75.478  0 
13 Jawa Tengah 51.001  60.322  60.893  61.141  55.988  55.332  0 
14 Daerah Istimewa Yogyakarta 5.690  7.657  8.896  8.637  8.611  7.584  0 
15 Jawa Timur 0  112.447  110.762  100.707  97.908  95.431  0 
16 Banten 0  25.806  36.121  36.676  37.672  37.164  0 
17 Bali 0  8.081  8.759  8.964  7.283  7.744  0 
18 Nusa Tenggara Barat 0  10.958  11.228  12.688  10.847  10.593  0 
19 Nusa Tenggara Timur 0  8.668  13.595  11.083  11.656  12.299  0 
20 Kalimantan Barat 7.074  10.437  7.263  8.077  7.274  5.532  0 
21 Kalimantan Tengah 5.224  3.116  4.154  4.277  3.844  4.061  0 
22 Kalimantan Selatan 7.058  8.459  9.610  9.770  8.573  7.978  0 
23 Kalimantan Timur 0  8.240  8.069  9.210  8.700  9.129  0 
24 Kalimantan Utara 0  0  0  0  675  614  0 
25 Sulawesi Utara 0  4.446  4.501  4.565  4.587  3.611  0 
26 Sulawesi Tengah 0  3.058  4.250  4.603  5.131  4.884  0 
27 Sulawesi Selatan 9.056  11.026  12.725  14.518  17.214  19.365  0 
28 Sulawesi Tenggara 3.902  2.709  3.328  3.849  4.374  3.693  0 
29 Gorontalo 3.926  3.985  4.347  3.617  2.460  3.006  0 
30 Sulawesi Barat 0  3.917  3.053  2.911  1.988  2.792  0 
31 Maluku 1.420  1.320  1.496  2.687  1.592  2.110  0 
32 Maluku Utara 243  274  578  876  999  1.192  0 
33 Papua Barat 1.899  2.316  2.533  4.077  3.658  3.809  0 
34 Papua 2.770  2.737  2.903  2.733  2.711  2.709  0 










Rata-Rata 7.335 14.275 14.968 14.848 14.637 14.902 0










Status Angka :







* : Angka Sementara







** : Angka Ramalan III







*** : Angka Ramalan II







**** : Angka Ramalan I






Blog Archive

About

Blogroll

Blogger news

Popular Posts

Blogger templates

Wikipedia

Hasil penelusuran