Pages

Tampilkan postingan dengan label Profil Daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil Daerah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Oktober 2016

Jalan - Jalan Potret Pertanian Bersama Wakil Rektor III Unitas Padang Ke Kabupaten Pariaman

Potret Pertanian - Selasa 25/11/16 Potret berkesempatan untuk jalan-jalan bareng rekan dan Jalan Potret Pertanian Bersama Wakil Rektor III Ke Kabupaten Pariaman dalam Rangka Mengantarkan undangan kepada Bupati Padang Pariaman utnuk menghadiri acara Bakti Mahasiswa Uitas padang yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 5 sampai 6/11/2016 di Kayutanam padang pariaman. tapi kali ini saya akan menganalkan kepada sahabat potret pertanian tentang daerah yang terkenal dengan Lubuak Nyarai sebagai objek wisata alam yang belum banyak dikenal oleh publik. Terletak di Korong Koto Buruak, Nagari Lubuak Aluang, Kecamatan Lubuak Aluang. Jarak dari pusat Kecamatan Lubuak Aluang ke lokasi sekitar 6 Km. Akses ke lokasi ini hanya bisa dilewati dengan jalan kaki atau transportasi kuda beban.

Secara geografis, Kabupaten Padang Pariaman memiliki luas wilayah 1.328,79 Km2 dengan panjang garis pantai 42,1 Km yang membentang hingga wilayah gugusan Bukit Barisan. Luas daratan daerah ini setara dengan 3,15 persen luas daratan wilayah Propinsi Sumatera Barat. Posisi astronomis Kabupaten Padang Pariaman terletak antara 0°11’-0°49’ Lintang Selatan dan 98°36’ - 100°28’ Bujur Timur.

Secara administrasi Kabupaten Padang Pariaman terdiri dari 17 kecamatan dan 103 Nagari. Batas wilayah administratif Kabupaten Padang Pariaman adalah sebelah Utara dengan Kabupaten Agam, sebelah Selatan dengan Kota Padang, sebelah Timur dengan Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar, dan sebelah Barat dengan Kota Pariaman dan Samudera Indonesia.

Kecamatan 2 x 11 Kayu Tanam tercatat memiliki wilayah paling luas, yakni 228,70 km², sedangkan Kecamatan Sintuk Toboh Gadang memiliki luas wilayah terkecil, yakni 25,56 km². Kecamatan 2x1  Kayu Tanam berada di wilayah yang paling tinggi yaitu 100 - 1000 m dari permukaan laut (dpl)  sedangkan yang paling rendah adalah Kecamatan Batang Gasan dengan ketinggian 2 - 75 m dari permukaan laut (dpl). 

Sejarah Singkat Kabupaten Padang Pariaman.
Masyarakat Padang Pariaman, masih menurut narasi tambo, turun dari darek minangkabau, dari pedalaman tengah sumatera. penduduk daerah ini menurut laporan tahunan pemerintah daerah, berdasarkan pengakuan dari masyarakat padang pariaman sendiri, barasal dari paguruyung Batusangkar, yang terletak di darek minangkabau (Pemda Tk I Sumbar, 1978;7). Rantau Pariaman, selanjutnya menurut Dobbin, didirikan oleh imigran yang berasal dari Batipuh yang dianggap memiliki landasan kerajaan (Dobbin, 2008:84). Dalam waktu yang tidak pernah diketahui secara pasti, berkemungkinan sejak tahun 1300 M, para perantau awal(peneruka) tersebut turun bergelombang  ke wilayah pantai barat dan membuka pemukiman. Desa-desa awal di pantai Padang Pariaman, menurut catatan Suryadi, sesuai perjalanan waktu lalu menjadi entrepot-entrepot dagang dan pelabuhan. Entrepot dagang dan pelabuhan tersebut dikembangkan oleh orang -orang dari kampung-kampung tertentu didarek (seperti yang telah disebut diatas), yang semula tujuannya untuk memajukan kepentingan dagang mereka sendiri. Ketika pemukiman koloni itu semangkin berkembang, daerah-daerah pemukiman juga terus membesarkan dirinya seperti fungi dikulit manusia.

Hamka Mengatakan, nama pariaman sendiri berasal dari kata dalam bahasa arab,"barri aman". sebagaimana yang dikutip suryadi, kata dalam bahasa arab tersebut kurang lebih memiliki arti: "tanah daratan yang aman sentosa" (suryadi, 2004:92). Dalam literatur pribumi lain, kata Pariaman kadang juga dianggap berasal dari "parik nan aman", yang artinya kira-kira pelabuhan yang aman. Kapal-kapal yang singgah untuk berdagang di bandar-bandar di Rantau Pariaman dapat dengan aman bertransaksi dagang (Bagindo Armaidi Tanjung, 2006;11).

Sebelum orang eropa datang ke kawasan Rantau Pariaman, Kota-kota pelabuhan penting dikawasan ini, seperti pelabuhan pariaman dan tiku sudah dikunjungi pelaut-pelaut dari arab, china, dan gujarat (suryadi, 2004:93). Di kota-kota ini, komoditi dagang dari pedalaman minangkabau ini ditumpuk sebelum dikapalkan ke pelabuhan-pelabuhan lain. Kota-kota ini sudah lama menjadi pelabuhan penyalur keluar emas dari pedalaman minangkabau (suryadi, 2004:94),  Kawasan tengah sumatera sejak dulu memang terkenal sebagai penghasil emas. Itulah sebabnya terkadang, Pulau Sumatera juga disebut sebagai pulau emas. Jalur penyalur emas yang dihasilkan pedalaman Minangkabau kemudian dibawa ke pesisir pantai baik ke pesisir barat maupun ke pesisir timur. ke pesisir barat dipasok melalui kampung-kampung pantai di Rantau Pariaman.

Setelah kemerdekaan, Daerah administrasi periode kolonial, priaman, tikoe en de danau districten kemudian disahkan menjadi Kabupaten dengan nama Kabupaten Padang Pariaman berdasarkan Undang-undang Nomor 12 tahun 1956 dengan ibukota Kota Pariaman. Pada awalnya Kabupaten Padang Pariaman sesuai dengan Peraturan Komisaris Pemerintah di Sumatera No 81/Kom/U/1948 tentang Pembagian Kabupaten di Sumatera Tengah yang terdiri dari 11 Kabupaten diantaranya disebut dengan nama Kabupaten Samudera dengan ibukotanya Pariaman, meliputi daerah kewedanaan Air Bangis, Pariaman, Lubuk Alung, Padang Luar-Kota, Mentawai dan Nagari-Nagari Tiku, Sasak dan Katiagan.

Kabupaten Samudera ini terdiri dari 17 wilayah (gabungan nagari-nagari). Kabupaten Padang Pariaman dibentuk dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1956 tanggal 19 Maret 1956 tentang Pembentukan Daerah otonom Kabupaten Dalam Lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Tengah, dimana Propinsi Sumatera tengah dibentuk menjadi 14 Kabupaten, yang salah satunya adalah Kabupaten Padang/Pariaman dengan batas-batas sebagai yang dimaksud dalam pasal 1 dari Surat Ketetapan Gubernur Militer Sumatera Tengah tanggal 9 Nopember 1949 No. 10/G.M/S.T.G./49, dikurangi dengan daerah Kampung-Kampung Ulak Karang, Gunung Pangilun, Marapalam, Teluk Bajur, Seberang Padang dan Air Manis dari kewedanaan Padang Kota yang telah dimasukkan kedalam daerah Kota Padang, sebagai dimaksud dalam Surat ketetapan Gubernur Kepala Daerah Propinsi Sumatera Tengah Tanggal 15 Agustus 1950 No. 65/G.P./50 Bupati Padang Pariaman semasa Agresi Milter Belanda Tahun 1948 adalah Mr. BA. Murad

Kabupaten Padang Pariaman sampai tahun 2016 memiliki 17 Kecamatan, dan 103 nagari yang setelah dilakukan pemekaran nagari sesuai dengan Surat Gubernur Sumatera Barat Nomor 120/453/PEM-2016 tanggal 26 Mei 2016, sehingga di Kabupaten Padang Pariaman terdapat 103 Nagari.
Kecamatan yang paling banyak memiliki nagari adalah Kecamatan VII Koto Sungai Sarik yaitu 12 Nagari, Kecamatan Lubuk Alung, Nan Sabaris sebanyak 9 Nagari, Kecamatan Batang Anai, 2x11 Enam Lingkung, V Koto Kampung Dalam, Ulakan Tapakis sebanyak 8 Nagari, Kecamatan Padang Sago, Patamuan, sebanyak 6 Nagari, Kecamatan IV Koto Aur Malintang, Sintuk Toboh Gadang, Enam Lingkung, sebanyak 5 Nagari, dan Kecamatan Sungai Geringging, Sungai Limau,V Koto Timur, 2x11 Kayutanam sebanyak 4 Nagari, kemudian Kecamatan Batang Gasan hanya mempunyai 3 nagari.

Semenjak dikeluarkannya Surat Keputusan (SK) DPRD No 05/KEP.D/DPRD.2008 dan SK Bupati Padang Pariaman Nomor 02/KEP/BPP/2008 tertanggal 2 Juli 2008, Ibukota Kabupaten Padang Pariaman dipindahkan dari Kota Pariaman ke Paritmalintang, yakni Nagari Paritmalintang Kecamatan Enam Lingkung

Berikut Daftar yang pernah memerintah di Padang Pariaman sejak tahun  1945 hingga sekarang.
Bupati Kabupaten Padang Pariaman
No
Nama
Periode Jabatan
1Sutan Hidayat Syah
1945 – 1946
2Ibrahim Datuk Pamuncak
1946 – 1947
3BA. Murad
1947 – 1950
4Said Rasyad
1950 – 1953
5Taher Samad
1953 – 1956
6Harun Al Rasyid
1956 – 1958
7Na’azim Sutam Syarif
1958 – 1959
8Raharjo
1959 – 1960
9Syamsu Anwar
1960 – 1961
10JB. Adam
1961 – 1966
11Muhammad Noer
1966 – 1975
12Prof. Drs. Harun Zein
1975
13Muhammad Zein Chatib
1975 – 1980
14Kol. Inf. H. Anas Malik
1980 – 1990
15H. Zainal Bakar, SH
1990 – 1994
16Ir. H. Nasrul Syahrun
1994 – 1999
17Drs. Armyn AN
1999 – 2000
18Drs. H. Muslim Kasim AK, MM Dt. Sinaro Basa
2000 – 2005
19Drs. H. Muslim Kasim AK, MM Dt. Sinaro Basa2005 – 2010
20Drs. H. Ali Mukhni2010 - 2015
21Drs. H. Ali Mukhni      2015 - 2020


Demikian sekilas tentang kabupaten Pariaman semoga bermanfaat dan salam sukses selalu dari Potret Pertanian.

Selasa, 04 Oktober 2016

SEKILAS BUDIDAYA BAWANG MERAH DAN KENDALANYA DI ALAHAN PANJANG

Potret Pertanian - Bawang Merah merupakan komoditi yang dominan di Nagari Alahan Panjang Kabupaten Solok Provinsi Sumatera Barat dan penghasil produksi bawang merah di Pulau Sumatera. Dalam pelaksanaan budidaya bawang merah di Nagari Alahan Panjang ini sudah modern, karna penanamannya petani telah menggunakan plastik mulsa yang bertujuan untuk menjaga kelembapan tanah, menekan pertumbuhan gulma serta mengurangi serangan hama dan penyakit.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, petani di Nagari Alahan Panjang sudah menggunakan sistem budidaya dengan baik, dari pemilihan tampang ( bibit/umbi ) yang unggul, pengolahan tanah, pemupukan secara teratur bahkan perawantan sudah menggunakan pestisida baik pestisida organik maupun anorganik. Produksi bawang merah dapat mencapai 10.000 kg sampai 12.800 kg/Ha, usaha untuk meningkatkan produksi bawang merah tersebut, biasanya petani menggunakan Pupuk buah ataupun hormon tanaman melalui penyemprotan secara teratur.

Dalam budidaya bawang merah tidak semudah teori atau seperti yang dibayangkan, karna untuk mencapai finish dan hasil maksimal perlu perjuangan yang sangat berat untuk melewati kendala-kendala tersebut, kendala yang dimaksud adalah kabut dan cuaca yang tidak menentu. Pada cuaca penghujan, maka petani harus selalu kontrol dan penyemprotan fungisida secara teratur.Karna, tanaman bawang merah apabila terlalu banyak mendapatkan hujan, daun tanaman akan melunak akibat asupan Nitrogen yang terbawa air hujan secara berlebihan. Setelah tanaman lunak petani harus segera mengantisipasi supaya tidak terserang penyakit tanaman, penyakit tanaman ini akan muncul apabila kelembapan disekitar tanaman tinggi, salah satu contoh penyakit yang timbul seperti Alternaria porri, penyakit ini muncul pada saat hari pengabut, penghujan serta kelembapan tinggi.

Perjuangan petani untuk menuju hasil akhir tidak hanya sampai disitu, petani harus dihadapkan kepada produksi tanamannya. Pada cuaca extreme pembuahan tanaman bawang merah akan terhambat, karna pengaruh Nitrogen yang terbawa oleh air hujan serta jumlah sinar matahari yang didapat lebih sedikit. Untuk mengatasi itu para petani biasanya mengaplikasikan fungisida yang kuat, kuat dalam artian mampu memberikan pressing terhadap daun bawang sehingga kuat dan tegak. Selain itu, petani juga selalu mengaplikasikan Pupuk untuk pembuahan supaya hasil produksinya lebih maksimal.
Selama ini para petani dalam peningkatan produksi bawang merah menggunakan berbagai macam pupuk buah dan ZPT diantaranya :
a.    Maxlo
b.    Borris
c.    Optima
d.    Energi
e.    Dekamon
f.    Mastofol Tristar
g.    Bulber
h.    N – Balancer
i.    Backer
j.    Pronion
k.    Pupuk MKP dan lain2nya
Selain macam-macam produk diatas kebiasaan petani juga menggunakan ZPT Mc Erol dengan kandungan Paclobutrazol 10%, produk ini mempunyai karakteristik menekan pertumbuhan atau menghentikan pertumbuhan Vegetatif dan mendorong pertumbuhan Generatif. Selain itu ada kelemahan produk tersebut, yaitu pada buah umbi bawang merah yang menggunakan Mc Erol ini akan memucat dan umbi kurang padat. Untuk mengatasi kelemahan tersebut petani melakukan mixing dengan berbagai produk yang dapat memberikan kepuasan petani itu sendiri.

POTENSI WILAYAH PERTANIAN HORTIKULTURA DI KECAMATAN LEMBAH GUMANTI DAN DANAU KEMBAR SOLOK SUM-BAR

Potret Pertanian -Alahan Panjang merupakan daerah dataran tinggi dengan ketinggian 1.450 M dpl, dengan curah hujan rata-rata 212 hari per tahun. Dataran tinggi di Kabupaten Solok ini terdapat di Kecamatan Lembah Gumanti, Danau Kembar dan Gunung Talang. Dari ketiga kecamatan tersebut mempunyai potensi hortikultura yang berbeda, seperti di Kecamatan Lembah Gumanti terdapat 2.400 Ha Bawang Merah, 1.500 Ha Tomat, 1.200 Ha Kubis, 1.500 Ha Cabe, 400 Ha Kentang dan 800 Ha Sawi.

Grafik 1. Luas panenkomoditi Hortikultura di Kecamatan Lembah Gumanti

Kemudian di Kecamatan Danau Kembar komoditi yang dominan adalah Cabe 1.000 Ha, dan di ikuti oleh Tomat 600 Ha, Kubis 500 Ha, Kentang 500 Ha dan Bawang Merah 800 Ha
Grafik 2. Luas panen komoditi Hortikultura di Kecamatan Danau Kembar

Di Kecamatan Gunung Talang ini luas panen komoditi hortikultura tidak terlalu besar, tetapi dapat menyumbang produksi panenya dari 400 Ha cabe dan 150 Ha Tomat.

Rabu, 31 Agustus 2016

Potensi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Sumber gambar Q Beritakan
Potret Pertanian - Negri  Laskar Pelangi Secara geografis, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini berbatasan dengan beberapa wilayah, di antaranya sebelah barat dengan Selat Bangka, sebelah Timur dengan Selat Karimata, sebelah Utara berbatasan dengan Laut Natuna, dan Laut Jawa ada di sebelah selatan. Walaupun diapit oleh beberapa laut dan selat, pertumbuhan ekonomi provinsi yang sudah 14 tahun ini cukup membanggakan. Apa pasal? Berdasarkan data dari Badan Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal Provinsi (BPPTPM) Kepulauan Bangka Belitung, pada tahun 2012 kontribusi terbesarnya berasal dari sektor tersier dengan kontribusi sebesar 37,29 persen. Sektor tersier terdiri dari sektor perdagangan, hotel dan restoran (19,11 persen), sektor pengangkutan dan komunikasi (3,45 persen), sektor keuangan real estate dan jasa perusahaan (2,78 persen), dan sektor jasa jasa (11,94 persen).

Penopang kedua adalah sektor primer dengan kontribusi 34,42 persen yang meliputi sektor pertanian (18,65 persen) dan sektor pertambangan dan penggalian (15,77 persen). Sedangkan kontribusi terkecil adalah sektor sekunder sebesar 28,30 persen yang terdiri dari sektor industri pengolahan (19,23 persen), sektor listrik,gas dan air bersih (0,71 persen) dan sektor konstruksi (8,36 persen). Praktis di provinsi ini, ada enam sektor yang berpotensi untuk digarap oleh investor yakni sektor pertanian, sektor kehutanan, sektor pesisir kelautan dan perikanan, sektor pertambangan, sektor industri dan perdagangan, dan sektor pariwisata .

Secara makro, enam potensi yang menjadi keunggulan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan surga yang prospektif untuk dikembangkan oleh investor di provinsi yang berjuluk Negeri Serumpun Sebalai ini. Namun dari beberapa potensi tersebut yang sedang dibutuhkan oleh provinsi ini ialah pengembangan pariwisata, perikanan dan kelautan, serta energi. “Kami ingin mengoptimalkan tiga potensi tersebut,” tandas Noviar.

Ia beralasan sejauh ini potensi yang masih sering dilirik di provinsi Kepulauan Bangka Belitung oleh investor adalah pertambangan timah. Namun dirinya ingin mengubah persepsi kepada para investor agar provinsi ini tak hanya dikenal dengan surga timahnya saja, melainkan potensi lain yang belum digarap optimal. Sebagaimana diketahui, selain wisata pantai yang menjadi primadona, ada potensi lain yang bisa dikembangkan seperti wisata budaya di antaranya upacara-upacara Rebo Kasan, Buang Jong, Ceriak Nerang, Perang Ketupat, Sepintu Sedulang, dan perayaan tradisi etnis Tionghoa. Tak hanya itu saja, wisata sejarah pun turut menjadi wisata yang prospektif seperti mengunjungi Batu Balai, Wisma Ranggam, Vihara Dewi Kwan In, Phak Kak Liam dan Klenteng China Jebus.

Kemudian, sektor perikanan dan kelautan yang juga butuh sentuhan tangan dingin investor. Sebagai provinsi yang diapit oleh laut dan selat, sudah barang tentu kondisi dan potensi perikanan dan kelautan sangat representatif. Saat ini baru dikembangkan perkembangbiakan kerapu, rumput laut, serta udang vannamei. Padahal, ekspor perikanan dan produk olahan saat ini berkisar 1-3 persen di kawasan Asia Timur dan Tenggara.

“Potensi bisnis di sektor itu pun tak kalah jempolan. Tapi memang karena potensi itu belum dikelola secara maksimal mulai dari industri hulu hingga hilir. Di industri hulu misalnya saja pelabuhan kargo. Provinsi ini memiliki letak yang strategis, dekat dengan Sumatera, Kalimantan, apa-lagi Jakarta. Ini juga belum digarap. Kemudian dari sisi hilirnya, belum ada inovasi baru dari hasil olahan ikan. Baru ada kerupuk ikan dan terasi yang mayoritas,” paparnya.

Sedangkan yang terakhir adalah energi. Untuk menjadi daerah yang terus tumbuh, maka energi mutlak harus dipenuhi. Berbagai cara dilakukan agar investor mau menanamkan investasinya untuk pengadaan listrik. Di provinsi ini baru memiliki 150 MW listrik yang disuplai. Butuh total aliran listrik sekitar 600 MW agar mampu memberikan fasilitas bagi investor yang tentunya akan berdampak pada pertumbuhan ekonominya.
sumber informasi http://swa.co.id/

Sumber Daya Alam Provinsi Lampung

Potret Pertanian - Provinsi Lampung Dengan luas ± 3.528.835 ha, Provinsi ini memiliki potensi sumber daya alam yang sangat beraneka ragam, prospektif, dan dapat diandalkan, mulai dari pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, pertambangan, pariwisata, sampai kehutanan. Provinsi ini memiliki lahan sawah irigasi teknis seluas 103.245 ha, sawah, irigasi setengah teknis 24.164 ha, dan lahan sawah  irigasi non teknis seluas 244.008 ha. Total saluran irigasi mencapai 371.417 km. Sawah-sawah inilah yang pada 2006 menghasilkan 2.129.914 ton padi (gabah keringgiling/GKG), terdiri atas 1.959.426 ton padi sawah dan 170.488 ton padi ladang. Dibanding dua tahun terakhir, produktivitas padi yang dicapai meningkat, Pada 2004, produksi padi mencapai 2.091.996 ton sementara pada 2005 mencapai 2.124.144 ton, Semua itu belum termasuk produksi ubi kayu rotan 2006 mencapai lebih dari 5.473.283 ton, dan produksi jagung 1.183.982 ton. 

Dengan demikian ketahanan pangan di provinsi ini cukup kuat. Kawasan hutan mencapai 1.004.735 ha atau sekitar 30,43 % dari luas wilayah provinsi, terdiri atas hutan lindung 317.615 ha, hutan suaka alam dan hutan wisata/taman nasional 462.030 ha; hutan produksi terbatas 33.358 ha dan hutan produksi tetap 91.732 ha. 

Dalam rangka mendukung pembangunan berwawasan lingkungan yang berkesinambungan, produksi kehutanan kini lebih diarahkan kepada hasil hutan non kayu dan potensi ekowisatanya. Hasil hutan pada 2006 berupa kayu bulat sebanyak 3.4121.171 m³, kayu gergajian 145.732,25 m³ dan kayu lapis 82.714.45 m³, Sedangkan produksi basil hutan non kayu berupa damar mata kucing sebanyak 5.454,17 ribu ton, damar batu 1.351,30 ton, arang 30.347 rotan manau 3.000 batang, dan rotan lilin 1.293,24 ton.

Dari laut dan sungai sungainya yang besar pada 2006 Lampung menikmati hasil tangkapan laut hingga 133.503,4 ton, sedangkan tangkapan perairan umum mencapai 10.345,4 ton. Produksi budidaya tambaknya mencapai 164.264,8 ton, budidaya air tawar mencapai 17.448,9 ton dan hasil budidaya laut sebanyak 1.569,7 ton.

Daerah berlahan kering yang mencapai 89,88% dari total luas provinsi adalah tempat yang sangat cocok untuk mengembangkan sapi potong. Dengan potensi ini, Lampung memiliki perusahaan penggemukan sapi potong (feedlotters) terbesar di Indonesia dengan total populasi sapi potong mencapai 428 ribu ekor atau sama dengan 60% dari total populasi sapi potong nasional di feedlotter. Provinsi ini juga dikenal sebagai penghasil jagung, ubi kayu, dan dedak halus sebagai bahan baku pembuat konsentrat yang sangat dibutuhkan oleh ternak. Dengan dukungan potensi bahan baku ini, Lampung mampu menghasilkan produksi 23 juta ekor ayam potong pada 2006, meningkat dibandingkan dengan produksi 2005 yang mencapai 21 juta ekor ayam potong.

Perekonomian di Provinsi Lampung juga sangat didukung oleh produksi perkebunan seperti kopi, lada, karet, kelapa, dan tebu. Produksi kopi pada tahun 2006 mencapai 143.050 ton, produksi kakao 22.976 ton, lalu diikuti produksi kelapa dalam lebih dari 112.631 ton, lada 24.011 ton, karet 54.461 ton, kelapa sawit 367.840 ton, dan tebu 693.613 ton. Dari hasil produksi tebu itu Lampung memberi kontribusi 35% dari total produksi gula nasional, meningkat dibanding kontribusi 2005 yang mencapai 20%.

Keanekaragaman sumberdaya mineral di provinsi itu meliputi mineral logam, bahan galian industri, bahan galian energi, dan bahan galian konstruksi. Pada 2006, dari galian industrinya berhasil diproduksi 1.980.000.000 m³ andesit, 389.000.000 m³ felspar dan 590.000.000 m³ granit dengan mutu terjamin. Untuk cadangan zeolit sebesar 2.145.000 m3 dengan cadangan yang diprediksi sebesar 8.000.000 m³, baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor, Bahan galian logam yang ada di provinsi ini meliputi emas, mangaan, bijih besi dan pasir besi, namun baru sebagian saja dari potensi ini yang telah dikelola. Sekarang sumberdaya energi terbaru berupa panas bumi, air, serta bahan bakar nabati (BBN) yang berasal dari tebu, singkong, sawit, dan tanaman jarak tengah dikembangkan, Saat ini Provinsi Lampung memiliki pabrik etanol berbahan tebu terbesar di Indonesia.

Potensi energi seperti panas bumi yang berlokasi di daerah Ulu Belu, Kabupaten Tanggamus, mencapai 400 MW. Di Suoh, Kabupaten Lampung Barat, potensi tersebut mencapai 300 MW. Semua potensi itu telah di eksplorasi oleh Pertamina sebesar 110 MW. Potensi air untuk pembangkit tenaga listrik     juga sangat besar. Pada SWS Way Semangka Upper tersedia kapasitas sebesar 78 MW dan telah dioperasikan melalui PLTA Besai dan PLTA Baru Tegi. Pada SWS Way Semangka Lower dan Way Semung masing-masing tersedia potensi sebesar 76 MW clan 2,6 MW.
Sumber: Indonesia Tanah Airku (2007)

Sektor Pertanian Daerah Sumatera Selatan

Sumber Gambar Kebun teh Pagar Alam
Potret Pertanian - Sumatera selatan merupakan salah satu Provinsi yang ada di Indonesia yang memliki luas wilayah 60.302,54 (km2)  dengan populasi sekitar 6Juta jiwa lebih.
Sektor Pertanian  untuk daerah Sumsel tersebar di Kabupaten Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Ogan Komering Ulu, dan Musi Rawas yang merupakan lumbung bagi komoditas padi dan palawija. Hampir seluruh daerah kabupaten/kota di Sumatera Selatan memproduksi padi sawah maupun ladang kecuali kota Palembang.  Dengan optimalisasi pemanfaatan potensi sumber daya lahan yang tersedia secara keseluruhan melalui upaya peningkatan pelayanan jaringan irigasi dan rawa, penggunaan agroinput, peningkatan kemampuan petani mengakses modal perbankan dan pengembangan penggunaan alat mesin pertanian, maka kedepan Sumatera Selatan mampu meningkatkan produksi padi. Pertambahan produksi ini akan membuka kesempatan berusaha baru dan menambah pendapatan petani. Dengan Program Sumatera Selatan Lumbung Pangan semoga akan dapat mengatasi masalah kemiskinan, pengangguran dan peningkatan pendapatan masyarakat dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumatera Selatan.

Perkebunan 
Perkebunan karet di Indonesia saat ini lebih dari 3juta ha, dimana 85 persennya adalah perkebunan yang di kelola oleh rakyat. Indonesia merupakan negara penghasil karet terbesar dibanding negara-negara lainya. Namun Indonesia dalam segi produksi menduduki posisi ke dua setelah Thailand. Hal ini disebabkan produktivitas karet rakyat di Indonesia hanya mencapai 600 kg karet kering/ha/tahun. Di Provinsi Sumatera Selatan luas perkebunan karet mencapai 662.686 ha Perkebunan Rakyat sebesar 614.021 ha, Perkebunan Swasta sebesar 24.007 ha dan Perkebunan Negara Sebesar 21.741 ha. 
  • Kabupaten Banyuasin
  • Kabupaten Muara Enim
  • Kabupaten Lahat
  • Kabupaten MusiBanyuAsin
  • Kabupaten Ogan Ilir
  • Kabupaten Musi Rawas
  • Kabupaten OKI
  • Kabupaten OKU
  • Kabupaten Lubuk Linggau
  • Kabupaten Pagar Alam
  • Kabupaten Prabumulih (sumber: http://regionalinvestment.bkpm.go.id)
Produktivitas karet rakyat di Sumatera Selatan sebesar 840.000 ton tidak sesuai dengan luas lahan perkebunan karet yang ada. Faktor utama penyebabnya adalah bahan tanam yang digunakan oleh karet rakyat berbeda dengan perkebunan besar, ditambah lagi dengan kurang intensifnya pemeliharaan yang diterapkan pada perkebunan rakyat. Dengan berbagai prediksi potensi ketersediaan, dan konsumsi karet alam dunia, masa depan karet alam tampaknya masih cukup cerah. Lebih-lebih jika dilihat dari pesatnya perkembangan industri otomotif di negara China yang memerlukan pasokan karet alam cukup besar. Dengan kondisi demikian maka pemerintah Sumatera Selatan perlu memperhatikan sektor perkebunan karet, bagaimanan perkebunan karet tersebut bisa menghasilkan getah karet yang berlimpah. Program peremajaan bisa dilakukan pemerintah dengan revitalisasi perkebunan yang bisa meningkatkan produktivitas dan kesejahateraan rakyat.

Selain perkebunan karet masih banyak perkebunan lain yang bisa diberdayakan guna menunjang kemajuan perekonomian provinsi Sumatera Selatan seperti, perkebunan sawit, kopi, coklat, durian, duku dan masih banyak yang lainnya.

sumber daya alam di provinsi jambi (perkebunan)

Potret Pertanian - Jambi Merupakan salah satu daerah yang mempunyai tanah yang subur, dari tanaman perkebunan, hortikultura dan pangan bisa tumbuh subur subur didaerah ini. seperti halnya Propinsi yang menjadi tetangga Sumatera Barat, ayng tak kalah kaya akan kekayaan alam yang berlimpah. nah berikut beberapa komoditas andalan sebagai sumberdaya alam Di Provinsi jambi

1.Karet
Karet telah dikenal lama oleh warga di Provinsi Jambi, Bahkan kini perkebunan karet telah menjadi sektor pimadona pencaharian warga Jambi. Pada tahun 2006 luas kebun karet mencapai 623.825 ha dengan produksi 225.702 ton per tahun. 

2. Kelapa Sawit
Sawit adalah salah satu primadona provinsi Jambi selain Karet. luas lahan perkebunan kelapa sawit mencapai 400.168 hektare serta karet mencapai 595.473 hektare. Sementara itu, nilai produksi kelapa sawit sebesari 898,24 ribu ton pertahun.

3. Perkebunan Teh
Perkebunan Teh Kayoe Aro dirintis antara tahun 1925 hingga 1928 oleh perusahaan Belanda, Namblodse Venotschaaf Handle Vereniging Amsterdam (NV HVA). Selain dikenal sebagai perkebunan teh tertua di Indonesia,perkebunan seluas 3.020 hektar merupakan perkebunan teh dalam satu hamparan 
terluas di dunia. 

Selain itu, dengan ketinggian 1.400-1.600 meter dpl Kebun Teh Kayu Aro merupakan perkebunan teh tertinggi ke dua di dunia setelah perkebunan teh Darjeling di kaki Gunung Himalaya (4.000 m dpl). 
Pengawasan kualitas yang tinggi, mulai dari perawatan dan pemeliharaan tanaman, pemetikan pucuk teh, pengolahan di pabrik, hingga pengemasan hingga pengiriman, teh produksi PT Perkebunan Nusantara VI (PTPN VI) ini menyandang nama harum sebagai teh dengan kualitas terbaik di dunia. 

Aromanya yang khas serta kualitas prima, sebagian besar teh produksi PTPN VI ini diekspor ke manca negara, salah satunya Negara Belanda. Menurut sejarah, sejak turun menurun Ratu Belanda (Ratu Beatrix) 
sangat menyukai Teh Kayu Aro ini. 
4.Perkebunan kopi 

Kabupaten Tanjung Jabung Barat memiliki kebun kopi excelsa yang cukup luas. Kopi yang diekspor ke Malaysia dan Singapura tersebut, tumbuh di lahan seluas 2.423,8 hektare yang tersebar pada enam kecamatan.tanaman tersebut di antaranya tumbuh di Kecamatan Betara sekitar 1.482 hektare.wilayah penghasil kopi lainnya yaitu di Kec. Pengabuan seluas 362 hektare, Kec. Bram Itam seluas 223 hektare, Kec. Senyerang seluas 176,5 hektare, dan Kec. Kuala Betara  seluas 105 hektare. Sementara Kec. Tungkal Ilir hanya memiliki perkebunan kopi seluas 17 hektare. Sisanya tersebar di kecamatan lainnya, yang ditanam secara swadaya oleh para petani setempat.


5. Kayu manis

Daerah Pusat produksi kayu manis yang terbesar di Indonesia terdapat di Kabupaten Kerinci-Jambi, di Kerinci Kayu Manis merupakan tanaman perkebunan rakyat.
 

Pada tahun 2002 kontribusi Kayu Manis Kabupaten Kerinci Lebih Kurang 20.000 ton atau Mencapai 44% dari produksi Nasional.Di pasar Internasional, kayu Manis Kerinci Sudah Banyak Di Kenal Dengan Berbagai Merk Dagang.
 

Kayu Manis Kerinci Memiliki Keunggulan dalam berbagai hal, antara lain: Aroma dan Cita rasa, kandungan minyak atsiri yang tinggi, warna yang khas, Ketebalan ukuran dan bentuk yang tidak dimiliki oleh kayu manis dari daerah lain. Kayu Manis Kerinci banyak digunakan pada industri Makanan/ Minuman, Kosmetik, dan Farmasi.

6. perkebunan kelapa
Provinsi Jambi sebenarnya memiliki potensi besar sebagai sentra perkebunan kelapa. Potensi perkebunan itutersebar di sembilan kabupaten di Provinsi Jambi. Produksi kelapa sesuai data pada tahun 2012 mencapai 110.075 ton. Mengingat kontribusi sektor perkebunan yang cukup besar hingga mencapai Rp 8.608.828, 38 ditahun 2010 berdasarkan data Jambi dalam Angka 2010, maka Gubernur Jambi melalui Dinas Perkebunan bertekat untuk meningkatkan produktivitas dan mutu perkebunan umumnya dan sektor kelapa khususnya.

7. Duku
Duku di daerah Jambi juga menjadi buah unggulan dan plasma nutfah yang mempunyai nilai komersial tinggi, banyak ditanam dan menjadi sumber pendapatan petani. Daerah sentra duku di Provinsi Jambi yaitu Kabupaten Muaro Jambi, Batanghari, Sarolangun, Merangin, Tebo dan Muaro Bungo. Duku Kumpeh yang terdapat di Kabupaten Muaro Jambi dan duku Muaro Panco dari Kabupaten Merangin merupakan varietas unggul nasional yang dilepas pada tahun 2000 dan 2009. Duku Kumpeh memiliki rasa manis, legit, daging buah bening, tekstur daging kenyal, tidak berserat, dan hampir tidak berbiji, sedangkan duku Muaro Pancojuga buahnya bening, berbiji kecil dan rasa manis. Rasa manis duku Kumpeh dapat bersaing dengan duku Palembang, Matesih dan Condet yang lebih dulu dikenal dan komersil.
Luas pertanaman duku di Provinsi Jambi pada tahun 2008 mencapai 7.660,36 ha dengan luas panen 1.661,50 ha dan rata-rata hasil 12,40 ton/ha. Hasil ini lebih rendah dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 14,66 ton/ha dengan luas panen yang lebih sempit yaitu sebesar 1.474 ha (Dispertan Prov. Jambi 2009).

sebenarnya masih banyak lagi potensi perkebunan yang dapat kita temui diprovinsi Jambi tetapi mungkin cuma ini yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi kita semua, dan marilah kita do'akan agar provinsi Jambi bisa lebih memajukan lagi sektor perkebunannya sehingga dapat menjadi kebanggaan Indonesia di kancah Internasional. Amiin..... :D

Sumber : http://aufalcendekiawan.blogspot.co.id
 
 

Sumber Daya Alam Riau

Potret Pertanian - Riau adalah salah satu provinsi kaya di Nusantara. Hampir semua kekayaan alam dimiliki provinsi ini. Di dalam perut buminya terkandung minyak bumi, batubara, emas, timah dan bahan tambang lainnya. Sementara di atasnya terhampar kekayaan hutan, perkebunan dan pertanian dalam arti luas.Sektor pertanian menjadi salah satu motor penggerak perekonomian rakyat. Sektor ini tidak saja mampu memberikan kontribusi yang besar terhadap perekonomian lokal, tapi juga mampu menyerap banyak sekali tenaga. Kini tersedia lahan sawah seluas 28.845 ha yang dilengkapi dengan saluran irigasi, 150.092 ha sawah tadah hujan, 70.284 ha sawah pasang surut dan 13.077 ha sawah lainnya.

Berbagai jenis peternakan juga telah dikembangkan, terutama sapi potong, kambing, domba, babi, ayam buras dan itik. Pada 2005, ternak sapi potong populasinya mencapai 102.352 ekor per tahun, sementara ternak kambing 256.324 ekor per tahun, ternak domba 2.453 ekor per tahun, babi 46.386 ekor per tahun, ayam buras 316.425 ekor per tahun dan itik 339.269 ekor per tahun. Karena itu, daging yang diproduksi per tahun nya mencapai 4.593183 kg daging sapi, 434.806 kg daging kambing, 1.490 kg daging domba, 874.262 kg daging babi dan 29.355.155 kg daging ayam unggas. Perkebunan juga merupakan sektor andalan. Karet, kelapa, kelapa sawit, kopi dan pinang adalah komoditas perkebunan yang selama ini banyak membantu perekonomian penduduk pedesaan. Di saat krisis ekonomi melanda Indonesia secara nasional, petani yang bekerja di sektor ini justru tetap survive, bahkan mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Luas perkebunan karet mencapai 528.697,48 ha dengan hasil 463.053,52 ton, kebun kelapa mencapai 546.927,13 ha dengan hasil 629.926,80 ton, kebun kelapa sawit seluas 1.392.232,74 ha dengan hasil 3.931.619,17 ton, kebun kopi seluas 10.040,50 ha dengan hasil 3.545,97 ton dan kebun pinang seluas 9.249,56 ha dengan hasil 6.960,72 ton.

Perkebunan Perkebunan mempunyai kedudukan yang penting di dalam pengembangan pertanian baik pada tingkat nasional maupun regional. Perkembangan kegiatan perkebunan di Provinsi Riau menujukkan trend yang semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat dari semakin luasnya lahan perkebunan dan meningkatnya produksi rata-rata pertahun, dengan komoditas utama kelapa sawit, kelapa, karet, kakao dan tanaman lainnya. Peluang pengembangan tanaman perkebunan semakin memberikan harapan, hal ini berkaitan dengan semakin kuatnya dukungan pemerintah terhadap usaha perkebunan rakyat, tumbuhnya berbagai industri yang membutuhkan bahan baku dari produk perkebunan dan semakin luasnya pangsa pasar produk perkebunan. Krisis ekonomi yang melanda daerah ini pada tahun 2000 telah memporak-porandakan sendi-sendi ekonomi rakyat, namun yang tetap bertahan malahn mendapatkan keuntungan dari dampak krisis ekonomi tersebut justru sektor perkebunan. Hal ini membuktikan bahwa sektor perkebunan merupakan sektor yang masih bisa tetap bertahan meskipun kondisi perekonomian di negeri ini di landa krisis. Sebagai contoh, petani kelapa sawit pada waktu krisis justru mendatangkan keuntungan yang berlipat akibat harga sawit waktu itu justru meningkat.

Untuk perkebunan kelapa, Kabupaten Indragiri Hilir mempunyai areal perkebunan yang paling luas. Kabupaten Indragiri Hilir dari dulu terkenal dengan daerah penghasil kopra. Luas areal perkebuna kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir seluas 501.576 Ha atau 84.42 persen dari total jumlah keseluruhan. Diikuti oleh Kabupaten Bengkalis 47.653 Ha atau 8.02 persen dan Kabupaten Kuantan Singingi seluas 6.324 Ha atau 1.06 persen. Sedangkan Kota Pekanbaru dan Dumai tidak mempunyai areal perkebunan kelapa sama sekali. Untuk perkebunan karet, Kabupaten Kuantan Singingi mempunyai areal yang paling luas dibandingkan dengan Kabupaten/Kota lainnya, yaitu seluas 130.635 Ha atau 26.17 persen dari total jumlah keselurahan perkebunan karet di Provinsi Riau. Kabupaten Kampar menempati posisi kedua seluas 84.567 Ha atau 16.94 persen, dan Kabupaten Indragiri Hulu seluas 76.223 Ha atau 15.27 persen. Sedangkan Kabupaten/Kota yang paling sedikit areal perkebunan karetnya adalah Kota Dumai seluas 1.410 Ha atau 0.28 persen disamping Kota Pekanbaru yang tidak mempunyai areal perkebunan karet sama sekali. Disamping perkebuna kelapa sawit, kelapa dan karet, Provinsi Riau juga daerah potensial untuk tanam kopi, meskipun sampai saat ini arealnya hanya sebatas industri rumah tangga. Untuk tanam kopi, Kabupaten Indragiri Hilir mempunyai luas areal 4.104 Ha atau 37.57 persen dari luas areal keseluruhan tanaman kopi yang ada di Provinsi Riau. Kabupaten Bengkali menmepati posisi kedua yaitu 1.858 ha atau 17 persen dan Kabupaten Rokan Hulu seluas 1.277 Ha atau 11.69 persen. Sedangkan Kabupaten yang mempunyai areal yang paling sedikit adalah Kota Dumai seluas 55 Ha atau 0.50 persen disamping kota Pekanbaru yang tidak mempunyai areal perkebunan kopi sama sekali.
Riau adalah salah satu provinsi kaya di Nusantara. Hampir semua kekayaan alam dimiliki provinsi ini. Di dalam perut buminya terkandung minyak bumi, batubara, emas, timah dan bahan tambang lainnya. Sementara di atasnya terhampar kekayaan hutan, perkebunan dan pertanian dalam arti luas.

Make Money Online : http://ow.ly/KNICZ

Potensi Sektor Unggulan Sumatera Barat

Potret Pertanian - Sumatera Barat, salah satu propinsi di Indonesia di wilayah Pulau Sumatera, dilengkapi dengan keanekaragaman hayati. Dengan kondisi wilayah yang dikelilingi oleh laut dan juga barisan pegunungan, maka mengakibatkan daerah Sumatera Barat dikelilingi oleh hutan Hujan Tropis, dengan kondisi curah hujan dan kelembaban yang mendukung bagi berbagai jenis tanaman tropis. Oleh karena itu, hampir 70% wilayah hutan di Sumatera Barat dijadikan Hutan Konservasi (32%) dan Hutan Lindung (35%). Dukungan Geografi tersebut membuat sektor pertanian menjadi unggulan di Sumatera Barat dari sembilan jenis sektor usaha lainnya.

Tidak hanya hutan, Sumatera Barat juga terkenal dengan bentangan pegunungan Bukit Barisan. Pegunungan Bukit Barisan terbentang dari utara Pulau Sumatera yaitu Nangroe Aceh Darusalam sampai ujung selatan yaitu Lampung, dengan puncak tertinggi Gunung Kerinci yang terbentang di Jambi. Rangkaian Pegunungan Bukit Barisan merupakan rangkaian pergunungan pertemuan dari pelat tektonik Euroasia dan
Australia. Pelat Tektonik tersebut mengandung banyak mineral dan bebatuan. Kondisi geografis alam tersebut memberikan implikasi adanya keanekaragaman batuan yang mungkin mendukung kapasitas produksi daerah. Terkhusus di Sumatera Barat, yang terkenal adalah Pasaamen Area, masih dalam eksplorasi diperkirakan memiliki potensi tambang emas.

Sumatera Barat juga dapat dikategorikan sebagai daerah Hinterland untuk beberapa sektor yang dikuasi oleh Sumatera Barat. Hinterland merupakan istilah untuk daerah atau
kota yang memiliki kemampuan dalam memenuhi kebutuhan di daerah lainnya, dengan spesifikasi komoditi tertentu. Kategori Hinterland tersebut dimaksudkan untuk daerah yang memiliki LQ atau Location Quotient. LQ menggambarkan seberapa besar porsi kapasitas produksi suatu sektor dapat memenuhi kebutuhan nasional di sektor tersebut. Jika LQ lebih dari 1 maka, menandakan bahwa daerah tersebut menjadi Hinterland bagi daerah lain pada sektor tersebut, jika LQ kurang dari satu maka, daerah tersebut masih harus dibantu untuk memenuhi kebutuhan domestik daerah tersebut.

Analisa LQ Hasil Produksi Hayati Sumatera Barat

Iklim Sumatera Barat yang sangat mendukung untuk berbagai jenis tanaman dan kekayaan akan Hutan Hujan Tropis, maka dapat diperkirakan bahwa sektor pertanian di Sumatera Barat mampu mendukung kondisi kebutuhan pertanian di daerah lain. Hal ini terbukti dari perkembangan LQ Sumatera Barat dalam sektor pertanian bahan pangan yang meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2005, LQ produksi pertanian bahan pangan menunjukkan angka 0.92, sedangkan pada tahun 2006, LQ melonjak mencapai 2.17, dan diperkirakan terus menguat sampai akhir 2008. Oleh karena it potensi pertanian dan berbagai keanekaragaman hayati sangat besar dan masih layak untuk dikembangkan, melalui investasi teknologi dan ilmu pengetahuan Holtikultura.

Sesuai paparan diatas, kondisi iklim dan cuaca di Sumatera Barat mendukung untuk memiliki kondisi dan kekayaan hutan. Namun, kekayaan keanekaragaman jenis tanaman hutan hujan tropis Sumatera Barat membuat, lebih dari 50% Hutan dijadikan hutan lindung dan konservasi, namun angkan LQ masih menunjukkan bahwa Sumatera Barat masih mampu mendukung kebutuhan hasil produksi hutan daerah lain. Pada tahun 2005 LQ produksi pertanian-kehutanan sebesar 2.47, yang artinya Sumatera Barat masih mampu memenuhi kebutuhan hasil produksi hutan oleh daerah lain.

Namun, terjadi penurunan pada tahun 2006, LQ menunjukkan posisi 1.6, sedangkan pertumbuhan hasil hutan mencapai 19.6%, sedangkan pada tahun sebelumnya hanya tumbuh 3.7%. Kondisi yang kontradiktif ini menunjukkan adanya implikasi perkembangan produksi di sektor lain melampaui perkembangan sektor kehutanan di Sumatera Barat. Walaupun begitu, Sumatera Barat masih mampu menjadi Hinterland bagi daerah lain pada sektor hasil sumber daya hayati.

Sumatera Barat Masih Membutuhkan Investasi di Pertambangan

70% dari dari seluruh daerah di Sumatera Barat didominasi oleh bagian bentangan pegunungan bukit barisan. Mengingat bukit barisan merupakan jenis lempengan tektonik maka sudah dapat diperkirakan bumi Sumatera Barat kaya akan sumber mineral batuan. Salah satu indikasinya adalah adanya pabrik Semen Padang di Sumatera Barat, yang menunjukkan bahwa adanya sumber batuan kapur. Beberapa daerah yang terkenal dengan hasil pertambangan tembaga, timah dan peraknya adalah area Sawah Lunto dan Kabupaten Tanah Datar. Tanah datar pada tahun 2005 berhasil membukukan nilai produksi batuan kapur sebesar Rp 123 juta hanya untuk satu kabupaten.

Sawah Lunto pernah menjadi tulang punggung perekonomian Sumatera Barat dengan spesifikasi Batu Bara. Kondisi topografi Sawah Lunto yang terdiri dari perbukitan yang terjal mendukung untuk dikembangkannya areal pertambangan Batu Bara. Dari seluruh penggunaan tanah di Sawah Lunto, sebenarnya arela pertambangan hanya memanfaatkan sebesar 3.25%, dan terluas adalah penggunaan untuk pertanian. Namun, dengan real yang sedikit tersebut mampu memiliki cadangan yang siap diproduksi sebesar 53.176 juta Ton Batu bara, yang dihasilkan dari empat blok pertambangan, telah melampaui kebutuhan domestik Sumatera Barat sendiri yang berkisar pada angka 1.3 juta ton/tahun.

Kondisi ini memberikan implikasi masih kurangnya investasi di bidang pertambangan di Sawah Lunto untuk meningkatakan hasil produksi batu baranya. Data BPS menunjukkan rata-rata nilai produksi batu bara Sumatera Barat mencapai nilai 212 milysr rupiah, dengan kondisi masih jauh dibawah potensial daerah. Oleh karena itu, masih besar potensi pertambangan yang harus dieksplorasi di Sumatera Barat.(KP)
sumber : vibiznews.com & http://mahmalrizka.blogspot.co.id/

Blog Archive

About

Blogroll

Blogger news

Popular Posts

Blogger templates

Wikipedia

Hasil penelusuran